MEDAN – telisik.co.id/
Geopark Kaldera Toba sedang menghadapi masa krusial. Setelah mendapat “kartu kuning” dari UNESCO, upaya kolektif untuk menyelamatkan status Geopark dunia ini pun terus digenjot.
Menariknya, kolaborasi antara Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan tujuh bupati se-kawasan Danau Toba dalam membenahi kawasan Geopark menuai apresiasi dua tokoh Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT).
Dua tokoh itu adalah Ir. Mandalasah Turnip, SH dan Prof. Dr. RER. NAT. Binari Manurung, M.Si, yang juga bakal bersaing dalam pemilihan Ketua Umum KMDT 2025.
Mereka menilai, kerja nyata dan koordinasi intens antar pemerintah kabupaten dan provinsi menunjukkan keseriusan dalam mempertahankan status Geopark Kaldera Toba sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geoparks.
“Kami melihat ada semangat gotong royong dan aksi nyata yang dipimpin langsung Gubernur Sumut bersama tujuh kepala daerah.
Ini kolaborasi luar biasa untuk mengembalikan status green card dari UNESCO,” ujar Mandalasah Turnip, di Medan, Rabu (2/7/2025).
Seperti diketahui, pada 2023 lalu, UNESCO menjatuhkan peringatan “kartu kuning” bagi Geopark Kaldera Toba karena pengelolaan yang dinilai belum memenuhi beberapa standar internasional.
Jika tidak ada perbaikan signifikan, status Geopark bisa dicabut saat revalidasi 21–25 Juli 2025.
Namun, situasi itu justru memicu kerja kolektif lintas pemerintah. Tujuh bupati dari Kabupaten Simalungun, Samosir, Toba, Humbang Hasundutan,
Tapanuli Utara, Karo, dan Dairi, bahu membahu dengan Pemprov Sumut melakukan pembenahan di 16 geosite yang tersebar di kawasan Danau Toba.
“Yang dilakukan saat ini bukan sekadar kosmetik. Ada perbaikan nyata dan pembenahan fasilitas di titik-titik geosite yang akan dinilai tim UNESCO.
Ini harus diapresiasi,” tambah Binari Manurung, Guru Besar Unimed yang juga Ketua DPW KMDT Sumut.
Meski demikian, Binari mengingatkan bahwa waktu menuju revalidasi sangat singkat.
Ia menekankan pentingnya fokus pada kualitas, penyempurnaan fasilitas, serta penyajian data dan informasi yang selaras dengan standar UNESCO.
“Geopark Kaldera Toba ini punya potensi luar biasa sebagai pusat edukasi geologi dan destinasi wisata berkelanjutan.
Jika green card berhasil dipertahankan, maka tugas selanjutnya adalah mengelola dengan hati-hati dan sesuai standar global,” tutupnya.
Dengan semangat kolaborasi yang kian menguat, publik berharap Geopark Kaldera Toba bukan hanya lolos revalidasi, tapi juga menjadi simbol suksesnya pengelolaan kawasan strategis secara berkelanjutan dan profesional.(Wis)
















