LABUHANBATU – telisik.co.id/
Kebijakan tak biasa diambil Bupati Labuhanbatu, dr. Maya Hasmita SpOG MKM dan Wakil Bupati Jamri ST, di awal masa jabatannya.
Baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (20/2/2025), pasangan kepala daerah ini langsung membuat gebrakan dengan menolak fasilitas mobil dinas baru senilai Rp2,3 miliar.
Anggaran pembelian dua unit mobil dinas mewah yang bersumber dari APBD Labuhanbatu itu dialihkan untuk pengadaan truk angkutan sampah.
Menurut Bupati Maya, hal tersebut jauh lebih dibutuhkan masyarakat dan sejalan dengan prioritas penanganan kebersihan serta pelayanan publik.
"Saat ini bukan waktunya memikirkan kenyamanan pribadi. Mobil dinas bukanlah hal utama. Masyarakat butuh layanan dasar yang nyata," ujar dr. Maya.
Langkah ini menuai pujian dari berbagai pihak, salah satunya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Labuhanbatu Raya.
Ketua PC PMII Ferry Setiawan mengapresiasi tinggi keputusan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk kepemimpinan yang visioner dan berpihak pada rakyat.
"Saya menilai kebijakan Ibu Bupati sangat berbeda dari pemimpin-pemimpin sebelumnya.
Beliau baru saja dilantik, tentu wajar jika menerima mobil dinas baru. Tapi beliau justru menolaknya dan memilih membeli truk sampah. Ini benar-benar di luar nalar kita," ungkap Ferry.
Ferry menambahkan, sikap seperti ini mencerminkan ketulusan dan kecintaan Bupati terhadap masyarakat Labuhanbatu.
Menurutnya, keputusan ini juga menunjukkan komitmen nyata untuk mewujudkan Labuhanbatu yang cerdas dan bersinar.
Ia berharap program ini bisa berlanjut menjadi gerakan besar pengelolaan sampah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Kami dari PMII siap bersinergi dan mendukung penuh setiap program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama jika itu juga membuka lapangan kerja bagi generasi muda Labuhanbatu," tegasnya.
Bupati Maya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Kabupaten Labuhanbatu.
Kini, ia kembali mencetak sejarah—bukan karena simbol, tapi karena keberanian mengambil keputusan tak populer demi kepentingan rakyat banyak.(Arf)
















