Foto : Rico Waas Ungkap Darurat Sampah Medan dan Solusi PSEL.(ist)
Medan –telisik.co.id
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan penanganan sampah menjadi fokus utama Pemerintah Kota Medan saat menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan, Rabu (1/4/2026).
Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, dan turut dihadiri sejumlah pejabat Pemko Medan, di antaranya Asisten Ekbang Citra Effendi Capah, Kepala Bappeda Ferry Ichsan, Kadis Lingkungan Hidup Melvi Marlabayana, serta Kadis Perkimcikataru John Ester Lase.
Dalam sambutannya, Rico Waas menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut sekaligus memaparkan kompleksitas Kota Medan sebagai kota terbesar di wilayah barat Indonesia.
“Terima kasih atas kunjungan Bapak dan Ibu untuk melihat langsung kondisi Kota Medan,” ujarnya.
Rico menjelaskan, dengan luas wilayah sekitar 265 km² dan jumlah penduduk mencapai 2,5 juta jiwa pada malam hari—yang meningkat hingga sekitar 4 juta jiwa pada siang hari—tantangan pengelolaan sampah di Kota Medan sangat besar.
Saat ini, produksi sampah di Medan berkisar antara 1.300 hingga 1.500 ton per hari. Jumlah tersebut dapat melonjak drastis saat terjadi bencana, seperti banjir.
“Ketika banjir, produksi sampah bisa meningkat hingga 3.000 ton per hari, bahkan pernah mencapai 7.000 ton dalam sehari,” jelasnya.
Rico juga mengungkapkan, Kota Medan saat ini hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir, yakni TPA Terjun, dengan luas sekitar 14 hektare. Dari total tersebut, hanya tersisa sekitar 2–3 hektare lahan yang belum terisi, sementara timbunan sampah telah mencapai sekitar 600.000 ton.
“Jika tidak segera diatasi, diperkirakan pada 2029 TPA Terjun akan overload. Ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan,” tegasnya.
Sebagai langkah awal, Pemko Medan terus mendorong gerakan kebersihan berbasis masyarakat, seperti program “Sapa Warga” setiap Minggu dan “Gotong Royong Raya” yang melibatkan sekitar 3.000 personel dari 21 kecamatan untuk menangani titik-titik sampah kritis.
Di sisi lain, Rico menyebutkan bahwa Kota Medan telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 kota di Indonesia yang mendapatkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
“Kami sudah menyiapkan lahan sekitar 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah sekaligus pembangkit listrik. Energi yang dihasilkan nantinya akan dijual ke PLN,” ungkapnya.
Namun, ia mengakui pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan biaya besar. Berdasarkan studi banding, pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) bisa mencapai Rp1,7 triliun.
“Dengan APBD sekitar Rp7 triliun, ini cukup berat jika hanya mengandalkan anggaran daerah. Karena itu, dukungan pemerintah pusat sangat kami harapkan,” katanya.
Sementara itu, Yuke Yurike menyampaikan bahwa persoalan sampah juga menjadi tantangan serius di DKI Jakarta, meskipun didukung anggaran besar.
“Dengan anggaran besar pun, sampah masih menjadi darurat. Bahkan pernah terjadi longsor di tempat pengolahan sampah yang menelan korban jiwa,” ujarnya.
Ia menilai, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari pengurangan di hulu hingga pengolahan di hilir, dengan tantangan terbesar pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.
“Yang paling sulit itu memilah sampah dari sumbernya. Ini yang terus kami dorong melalui regulasi dan sosialisasi,” tambahnya.
Yuke berharap kunjungan ini menjadi momentum untuk berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama dalam mengatasi persoalan sampah di masing-masing daerah.
Menutup pertemuan, Rico Waas menegaskan pentingnya kolaborasi antar daerah dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
“Komunikasi dan kolaborasi antar daerah sangat penting, karena tujuan kita sama, yakni memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pungkasnya. (Wis)
















