Menu

Mode Gelap
 

Nasional

Banjir Bandang Menelan Sumatera, Luhut: Saya Tak Bisa Diam, Itu Kampung Saya

badge-check


					Banjir Bandang Menelan Sumatera, Luhut: Saya Tak Bisa Diam, Itu Kampung Saya Perbesar

TELISIK.CO.ID — TELISIK.CO.ID

Gelombang banjir bandang yang memporak-porandakan sejumlah wilayah di Sumatera, ternyata tidak hanya memunculkan derita di tengah masyarakat

tetapi juga menggugah sisi personal Menteri Koordinator Maritim dan Investasi sekaligus Ketua Dewan Energi Nasional (DEN), Luhut B. Panjaitan.

Dalam sebuah video yang ia unggah di media sosial, Luhut tampak berbicara dengan nada menahan emosi.

Ia mengaku, sejak hari pertama bencana terjadi, hampir setiap jam dirinya berkomunikasi dengan Kepala BNPB.

Meski penanganan kebencanaan bukan lagi wewenang langsungnya, Luhut mengatakan tidak bisa berdiam diri.

“Saya harus memastikan masyarakat selamat. Itu kampung halaman saya,” ujarnya dalam video tersebut.

Bagi Luhut, bencana ini bukan sekadar urusan angka dan laporan teknis. Ia menegaskan bahwa di balik data ratusan keluarga terdampak, ada wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil, rumah-rumah yang pernah ia lewati, dan tanah tempat ia dibesarkan.

Ia menyebut sejumlah titik kini terisolasi total. Jalan terputus, makanan sulit masuk, dan akses komunikasi terganggu. Kondisi itu membuat ia mengambil langkah personal.

Sejak 30 November, Yayasan DEL yang dipimpin keluarganya mulai mengirimkan bantuan darurat. Mulai dari paket makanan siap santap, obat-obatan, hingga logistik untuk bayi dan lansia.

“Kami kirim apa yang paling dibutuhkan. Tidak boleh ada yang menunggu sampai terlambat,” tegasnya.

Luhut juga mengaku terus menagih laporan perkembangan: berapa keluarga yang terputus akses, apa kebutuhan paling kritis, dan kapan bantuan pemerintah tiba di lokasi terisolasi.

Harapan terbesarnya kini hanya satu: penanganan bencana berjalan cepat—tanpa saling lempar tanggung jawab.

Ia menutup pernyataannya dengan nada lirih, penuh kekhawatiran: “Saya hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.”

 

Di tengah suara air yang menghanyutkan rumah, dan ribuan warga yang masih bertahan di titik pengungsian, kata-kata itu tidak sekadar pernyataan politik—melainkan jeritan batin seorang putra daerah yang melihat tanah kelahirannya luluh lantak.(**)

Reporter : Ari Angara SR

Facebook Comments Box

Lainnya

Peringatan HAM 2025 Memanas, Massa Desak Pembebasan Tahanan Politik di Jakarta”

10 Desember 2025 - 14:04 WIB

Jalan Menuju Lhokseumawe Lumpuh: Warga Evakuasi Kendaraan yang Tertimbun Lumpur dan Batu Besar

7 Desember 2025 - 15:58 WIB

Tanggul Laut Diduga Jebol, Rob Menghantam Ancol hingga Bekasi

5 Desember 2025 - 08:23 WIB

Ricuh di SPBU Nagasaribu III, Warga Saling Desak Saat Antrean BBM Memanjang

4 Desember 2025 - 08:09 WIB

Mentan Amran Jamin Beras Sumut Aman: 15 Ribu Ton Siap Didistribusikan ke Lokasi Bencana

3 Desember 2025 - 15:12 WIB

Hits di Nasional