Foto : Gubernur Sumut Bobby Nasution. (Ist)
Medan – Telisik.co.id
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menegaskan arah pembangunan ekonomi yang berpihak pada rakyat.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta koperasi diposisikan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan pada tahun 2026.
Kebijakan tersebut dinilai berhasil mendorong penguatan struktur ekonomi kerakyatan Sumatera Utara.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) Sumut, Naslindo Sirait, menyebut daya saing UMKM Sumut terus meningkat seiring akselerasi digitalisasi ekonomi, penguatan ekosistem kewirausahaan, serta konsistensi kebijakan daerah yang pro UMKM.
“Pembangunan ekonomi daerah di era Gubernur Bobby Nasution diarahkan untuk memperkuat UMKM dan koperasi agar naik kelas dan mampu bersaing.
Ini menjadi fondasi transformasi ekonomi Sumut yang lebih tangguh,” ujar Naslindo, Kamis (15/1/2026).
Sepanjang tahun 2025, kinerja UMKM dan koperasi Sumut menunjukkan tren positif.
Kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tercatat mencapai 46,51 persen, menegaskan posisi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah.
Sementara rasio volume usaha koperasi terhadap PDRB mencapai 1,84 persen, jauh melampaui target yang ditetapkan sebesar 0,79 persen.
Tak hanya itu, rasio kewirausahaan daerah juga melampaui ekspektasi.
Dari target 3 persen, realisasinya melonjak menjadi 4,10 persen, yang mencerminkan tumbuhnya wirausaha-wirausaha baru, khususnya dari kalangan generasi muda.
“Ini menandakan iklim usaha di Sumatera Utara semakin sehat dan kondusif bagi lahirnya wirausaha baru,” kata Naslindo.
Data lain menunjukkan pertumbuhan volume usaha koperasi pada 2025 mencapai 5,44 persen, melampaui target 4,82 persen.
Persentase koperasi aktif tercatat sebesar 53,78 persen, sementara koperasi yang memperoleh fasilitasi pelatihan mencapai 46,18 persen, dengan mayoritas merupakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Di sektor UKM, proporsi pelaku usaha yang menjalin kemitraan dan mampu menembus pasar ekspor mencapai 1,75 persen, melampaui target 1,66 persen.
Capaian ini menjadi sinyal awal meningkatnya orientasi UMKM Sumut terhadap pasar nasional dan global.
Memasuki tahun 2026, Pemprov Sumut memproyeksikan persaingan UMKM akan semakin kompetitif.
Oleh karena itu, fokus kebijakan tidak lagi sekadar menciptakan usaha baru, tetapi mengarahkan UMKM agar mampu bertahan, berkembang, dan berkelanjutan.
“Penguatan kualitas produk, konsistensi produksi, branding, digitalisasi, serta perluasan jejaring pasar menjadi kunci UMKM Sumut naik kelas,” tegas Naslindo.
Untuk menopang strategi tersebut, Dinas Koperasi UKM Sumut menyiapkan sejumlah program prioritas, antara lain pengembangan Sumut Digital Market dan Galeri Virtual UMKM guna memperluas akses pasar berbasis digital.
Selain itu, sejumlah kegiatan unggulan turut diperkuat, seperti Sumut Halal Fest untuk mendukung industri halal,
Program Fast Track Youngpreneur #LevelUp yang menargetkan akselerasi 1.700 wirausaha muda,
Optimalisasi PLUT menjadi Mall UMKM, serta pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai pusat ekonomi masyarakat desa.
Berbagai kegiatan pendukung juga terus digencarkan, mulai dari pengawasan dan penyehatan koperasi, penguatan kelembagaan,
fasilitasi sarana dan prasarana UMKM, hingga pelaksanaan event dan festival UMKM dalam bingkai Kolaborasi Sumut Berkah.
“Seluruh program ini terintegrasi dan berdampak langsung terhadap peningkatan volume usaha koperasi serta kontribusi UMKM terhadap PDRB Sumatera Utara,” jelas Naslindo.
Ia optimistis, tahun 2026 akan menjadi fase konsolidasi dan penguatan daya saing UMKM Sumut.
UMKM dan koperasi diharapkan tidak hanya menjadi penyangga ekonomi daerah, tetapi tampil sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara yang inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.(Wis/ril)















