Menu

Mode Gelap
 

Ekonomi

Wisata Langkat Terpuruk, Dugaan Kebocoran dan Salah Kelola Mencuat

badge-check


					Wisata Langkat Terpuruk, Dugaan Kebocoran dan Salah Kelola Mencuat Perbesar

Foto : Ragam wisata di Kabupaten Langkat ternyata tak mampu menarik banyak wisatawan. Buruknya pengelolaan kawasan rekreasi tersebut akibat ketikdak mampuan dinas terkait.(dok)

Langkat – telisik.co.id

Ketiadaan nama Kabupaten Langkat dalam daftar daerah tujuan wisata favorit di Sumatera Utara bukan sekadar “kecolongan”, melainkan bukti nyata lemahnya tata kelola pariwisata yang sudah lama dikeluhkan.

Di saat daerah lain berlari, Langkat justru tertatih.

Data terbaru menunjukkan, selama periode Lebaran 2026 saja, jumlah kunjungan wisatawan ke Sumatera Utara mencapai sekitar 360 ribu orang.

Namun ironisnya, arus wisatawan itu justru terkonsentrasi di daerah lain seperti Samosir (86 ribu lebih), Binjai, Serdang Bedagai hingga Medan—sementara Langkat nyaris tak terdengar kontribusinya.

Ini bukan sekadar soal “tidak masuk nominasi”, tapi soal ketertinggalan yang semakin nyata.

PAD Pariwisata Langkat: Potensi Besar, Hasil Kecil

Jika dibandingkan dengan daerah lain, kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata Langkat masih jauh dari optimal.

Sebagai perbandingan:

Kabupaten Samosir mampu menghasilkan PAD pariwisata hingga miliaran rupiah setiap tahun, bahkan mencapai lebih dari Rp5 miliar pada 2024.

Wahana News Samosir

Bahkan dalam hitungan hari libur, retribusi wisata Samosir bisa tembus miliaran rupiah.

Sementara Langkat—yang memiliki destinasi kelas internasional seperti Bukit Lawang—justru belum mampu menunjukkan capaian PAD yang signifikan dan transparan ke publik.

Ini menimbulkan pertanyaan besar:

ke mana sebenarnya potensi uang dari sektor wisata Langkat mengalir?

Kritik publik di media sosial bahkan secara terang menyinggung dugaan:

kebocoran retribusi

pengelolaan oleh pihak ketiga yang tidak transparan

hingga minimnya kontribusi nyata ke kas daerah

Jika ini dibiarkan, maka pariwisata hanya menjadi “ladang ekonomi liar”, bukan sumber PAD yang sehat.

Suara Pelaku Wisata: Sudah Lama Berteriak, Tapi Tak Didengar

Komentar di laman Facebook metrolangkat.com bukan sekadar keluhan emosional—itu adalah refleksi realitas di lapangan.

Pelaku wisata mengeluhkan:

Infrastruktur rusak dan listrik (PLN) yang sering bermasalah

Biaya operasional tinggi akibat minimnya dukungan pemerintah

Minimnya event dan promosi

Lingkungan wisata yang kotor dan tidak tertata

Dugaan pungli dan ketidaknyamanan wisatawan

Bahkan ada yang menyebut, pelaku usaha di Bukit Lawang harus “berjuang sendiri” untuk bertahan.

Artinya, pemerintah tidak hadir secara nyata.

Masalah Utama: Disparbud Tidak Punya Arah

Masalah terbesar bukan pada potensi—karena Langkat kaya.

Masalahnya ada pada kepemimpinan dan arah kebijakan.

Beberapa indikasi kegagalan:

Tidak adanya agenda wisata rutin berskala nasional/internasional

Tidak adanya branding kuat pariwisata Langkat

Lemahnya pengawasan dan pengelolaan destinasi

Tidak transparannya pengelolaan retribusi

Minimnya sinergi dengan pelaku wisata

Akibatnya, Langkat kalah bahkan dari daerah yang secara potensi jauh di bawahnya.

Saran Keras untuk Pemkab Langkat & Disparbud

Jika tidak ingin terus tertinggal, ada langkah yang harus segera dilakukan—bukan sekadar wacana:

1. Audit Total Pengelolaan Pariwisata

Buka data PAD sektor wisata secara transparan. Jika ada kebocoran, segera tindak.

2. Benahi Infrastruktur Prioritas

Bukit Lawang sebagai destinasi internasional seharusnya jadi wajah utama—bukan malah dibiarkan dengan listrik bermasalah dan akses terbatas.

3. Hentikan Pola “Seremonial Tanpa Dampak”

Pariwisata bukan sekadar rapat dan kegiatan formal. Yang dibutuhkan adalah program nyata dan berkelanjutan.

4. Libatkan Pelaku Wisata Lokal

Mereka yang bertahan selama ini adalah aset. Jangan hanya dijadikan objek, tapi mitra.

5. Bangun Event Ikonik Langkat

Tanpa event besar, wisata akan mati. Langkat butuh kalender event tetap.

6. Perkuat Pengawasan di Lapangan

Hilangkan pungli, tata kawasan, dan pastikan wisatawan merasa aman dan nyaman.

Penutup: Langkat Tidak Kekurangan Alam, Tapi Kekurangan Keseriusan

Langkat memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan. Tapi tanpa pengelolaan yang benar, semua itu hanya akan menjadi potensi yang terpendam.

Fakta bahwa ratusan ribu wisatawan datang ke Sumut—namun tidak singgah ke Langkat—adalah tamparan keras.

Jika Disparbud dan Pemkab Langkat masih gagal membaca situasi ini, maka satu hal yang pasti:

Langkat akan terus tertinggal, bukan karena miskin potensi, tapi karena miskin pengelolaan.(Yong)

Facebook Comments Box

Lainnya

Dari Target Rp3 Miliar ke Rp4,5 Miliar, PAD Tambang Sumut Melonjak

31 Maret 2026 - 18:33 WIB

Wacana WFH 1 Hari Picu Pro-Kontra, Pemerintah Kejar Efisiensi BBM di Tengah Lonjakan Harga Minyak

23 Maret 2026 - 16:44 WIB

Lebaran 2026, Pemprov Sumut Jamin Stok Pangan Aman, Harga Tetap di Bawah HET

14 Februari 2026 - 02:20 WIB

Syah Afandin Ajak ASN Genjot 30 Desa Wisata, Santunan dan Damkar Diserahkan

12 Februari 2026 - 18:07 WIB

Mesin Impor Senilai Rp50 Juta Dicatat Hanya USD 7, Menkeu Soroti Dugaan Underinvoicing

15 November 2025 - 05:42 WIB

Hits di Ekonomi