Menu

Mode Gelap
 

Berita

“Bilah Panai: Bahasa yang Kian Redup di Tanah Sendiri”

badge-check


					“Bilah Panai: Bahasa yang Kian Redup di Tanah Sendiri” Perbesar

 

Oleh: Sigondrong Dalam Diam

(Pelukis, Pelaku serta Penggiat Seni)

 

LABUHANBATU – telisik.co.id/

Bahasa adalah identitas, dan identitas itu kini terancam di tanah Labuhanbatu.

Di balik sejarah panjang wilayah yang pernah menjadi bagian dari keresidenan Sumatera Timur, bahasa Bilah dan Panai – dua dialek Melayu yang khas – kini tergolong bahasa minoritas di negeri tempat mereka dilahirkan.

Sejarah dan Akar Budaya

Kabupaten Labuhanbatu memiliki akar sejarah yang dalam. Dahulu, wilayah ini merupakan bagian dari Kesultanan Kota Pinang, Kesultanan Kualuh, Kesultanan Bilah, dan Kesultanan Panai yang berada dalam keresidenan Sumatera Timur di masa kolonial Hindia Belanda.

Kesultanan Bilah menjadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Labuhanbatu. Hanya dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, wilayah ini resmi menjadi kabupaten pada 17 Oktober 1945,

Dan disahkan melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1956 pada tanggal 24 November 1956, dengan luas wilayah mencapai 9.223,18 km².

Wilayah ini didiami oleh beragam suku: Batak (Angkola, Mandailing, Toba, Karo, Pakpak), Melayu, Jawa, serta Minangkabau, Aceh, dan Tionghoa.

Meski demikian, corak budaya Melayu tetap mendominasi, tercermin dari tradisi adat seperti Tepuk Tepung Tawar, Tari Persembahan, hingga ritual Mengayunkan Anak (penabalan nama).

Pecahan Wilayah, Redupnya Bahasa

Pada tahun 2008, Labuhanbatu dimekarkan menjadi tiga kabupaten: Labuhanbatu Induk, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu Selatan.

Namun, hanya di Labuhanbatu Induk dialek Melayu Bilah dan Panai masih dituturkan, meski mulai langka.

Ciri khas dialek ini, terutama pengucapan huruf ‘r’ yang sengau mirip ‘gh’, menjadikannya unik dibanding dialek Melayu lain di pesisir Sumatera Timur.

Ironisnya, bahasa ini kini tak lebih dari bahasa ibu di kalangan terbatas – dan itu pun mulai pudar.

Di tengah dominasi bahasa Indonesia dan gempuran bahasa asing, Bahasa Bilah dan Panai berpotensi punah jika tidak segera diselamatkan.

Sungai, Sejarah, dan Simbol

Sungai Bilah – yang menginspirasi nama Kesultanan Bilah – menyimpan jejak kejayaan masa lalu. Sutan Tahir Indra Alam, keturunan Kesultanan Pinang Awan dari Kota Pinang, mendirikan Kesultanan Bilah pada 1630, terinspirasi dari kata “bilah” yang berarti sepotong pohon nibung yang tumbuh di pinggir sungai.

Dulu, sungai ini menjadi jalur utama perdagangan yang menghubungkan ke Selat Malaka, sekaligus denyut peradaban.

Kini, jejak kejayaan itu tinggal cerita, seperti juga bahasa yang lahir dari peradaban tersebut.

Jalan Pelestarian: Dari Sekolah dan Kebijakan

Melestarikan dialek Bilah dan Panai bukan pekerjaan mustahil. Pemerintah daerah dapat memasukkan keduanya ke dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal.

Jika para pejabat menghayati filosofi di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, maka pelestarian budaya lokal tak hanya mungkin, tapi niscaya.

Kita tidak mungkin mengulang kejayaan masa lalu dengan menghidupkan kembali jalur perdagangan Sungai Bilah.

Tapi kita bisa menjaga peninggalan budaya yang masih hidup – bahasanya, nadanya, rohnya. Inilah bagian dari Ika Bina En Pabolo – membina di sini, memperbaiki di sana.

Karena bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga warisan jiwa sebuah bangsa.(**)

 

Facebook Comments Box

Lainnya

Hadiri RKPD Sumut 2027, Wabup Langkat Tegaskan Kesiapan Pemulihan Pascabencana

30 Januari 2026 - 12:03 WIB

Pemprov Sumut Pastikan Proyek Penguatan Tebing Sungai Batang Serangan Dilaksanakan Tahun 2026

29 Januari 2026 - 11:48 WIB

Kemenimipas Salurkan 10 Ribu Paket Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Langkat

28 Januari 2026 - 21:57 WIB

Pemko Binjai Segel Bangunan Ilegal di Bantaran Sungai

21 Januari 2026 - 21:01 WIB

Kecelakaan Kerja di PKS CCMO, Disnaker Langkat Angkat Tangan: Kewenangan Dipreteli?

20 Januari 2026 - 15:16 WIB

Hits di Berita