MEDAN – telisik.co.id
Pertemuan antara Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution dengan Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Prananda Surya Paloh, dinilai memiliki makna strategis dalam dinamika politik nasional ke depan.
Pertemuan yang dikemas dalam suasana makan malam di Rumah Dinas Gubernur Sumut beberapa hari lalu tersebut, disebut sebagai interaksi dua tokoh muda dengan kapasitas besar serta tingkat popularitas yang tinggi.
Pengamat politik nasional berbasis strategi akar rumput, Dimas Oki, menilai pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan memiliki nilai signifikan dalam membaca arah konsolidasi politik generasi muda ke depan.
“Pertemuan ini positif dan memiliki nilai signifikan. Kita melihat dua tokoh muda dengan kapasitas besar bertemu dalam momentum yang tepat. Ini bukan hanya komunikasi biasa, tetapi bagian dari dinamika politik yang lebih luas,” ujar Dimas.
Menurutnya, jika dikaitkan dengan kontestasi politik praktis, khususnya di wilayah urban seperti Jakarta, sosok Bobby Nasution memiliki peluang besar.
Hal ini tidak terlepas dari kuatnya basis pemilih muda serta pengalaman kepemimpinan yang relevan dengan karakter masyarakat perkotaan.
Apalagi dengan pengalaman Bobby menjadi Wali Kota Medan dan saat ini menjadi gubernur saat ini, tentunya bukan sesuatu yang mustahil.
Selama ini Bobby dikenal dengan program program kerja menarik dan sesuai kenginan semua masyarakat.
“Bobby memiliki keterkaitan dengan pola kepemimpinan yang dekat dengan anak muda, seperti yang pernah terlihat pada era kepemimpinan Jokowi di Jakarta. Ini menjadi modal penting untuk meyakinkan pemilih muda,” jelasnya.
Dimas juga menilai kemampuan membaca tren sosial dan politik menjadi salah satu kekuatan utama. Dalam konteks kota metropolitan seperti Jakarta, karakter kepemimpinan yang adaptif, kosmopolitan, dan memahami dinamika sosial ekonomi menjadi kebutuhan utama.
“Jakarta adalah wajah ekonomi nasional. Dibutuhkan pemimpin yang memahami masyarakat urban dan kosmopolitan, serta mampu menjahit berbagai kepentingan sosial dan ekonomi. Karakter itu ada pada Bobby,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa latar belakang sebagai kepala daerah dari luar Jakarta bukan menjadi hambatan. Menurutnya, Jakarta merupakan kota terbuka yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
“Jakarta itu kota kosmopolitan. Banyak pemimpin sebelumnya juga bukan berasal dari Jakarta, namun tetap diterima. Jadi faktor asal daerah tidak lagi relevan menjadi hambatan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dimas mengatakan, hal ini sejalan dengan Partai NasDem yang dikenal sebagai salah satu partai yang berhasil mendudukan beberapa sosok untuk menjadi kepala daerah, mulai dari walikota sampai Gubernur.
Ia menambahkan, Partai NasDem selalu membuka ruang bagi figur-figur potensial. Ia menyebut NasDem memiliki rekam jejak dalam mendorong kandidat di wilayah urban dengan pendekatan politik yang terbuka dan adaptif.
“NasDem dikenal sebagai partai terbuka dengan pengalaman memenangkan kandidat di masyarakat urban. Ini menjadi bagian dari strategi dan arsitektur politik ke depan,” ujarnya.
Dimas menilai, jika momentum ini dikelola dengan strategi yang tepat, pertemuan antara Bobby Nasution dan Prananda Paloh dapat menjadi bagian dari desain besar politik nasional yang melibatkan generasi muda.
“Ini bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi bisa menjadi langkah strategis dalam membangun kekuatan politik masa depan,” pungkasnya. (wis)
















