MEDAN – telisik.co.id
Sikap tegas Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution saat meninjau penanganan banjir di Tapanuli Tengah menuai perhatian publik.
Teguran terbuka kepada jajaran di lapangan dinilai sebagai sinyal keras terhadap lambannya kinerja birokrasi dalam situasi darurat.
Pengamat komunikasi publik Fakhrur Rozi menilai, langkah tersebut merupakan respons wajar dalam kondisi krisis yang menuntut kecepatan dan ketepatan penanganan.
“Dalam kebencanaan, kepala daerah harus memiliki sense of urgency. Ketegasan menjadi sinyal kuat agar aparatur bergerak lebih cepat,” ujarnya di Medan, Selasa (14/4/2026).
Ketegasan Bobby disebut tidak muncul tanpa alasan. Lambannya pendataan warga terdampak serta progres pembangunan tanggul di Kecamatan Tukka menjadi pemicu utama munculnya teguran langsung di lapangan.
Menurut Rozi, secara psikologis, teguran yang disampaikan di hadapan pimpinan daerah seperti bupati memiliki efek dorong yang kuat terhadap kinerja aparatur.
“Ini bentuk kontrol sekaligus pengingat agar kinerja berjalan optimal, bukan untuk menjatuhkan,” jelasnya.
Dari sisi dampak, sikap tegas dinilai mampu mempercepat respons birokrasi, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta menunjukkan kepemimpinan yang responsif dalam situasi darurat.
Namun demikian, Rozi juga mengingatkan pentingnya menjaga pola komunikasi di ruang publik.
Di era digital, penyampaian yang terlalu emosional berpotensi memicu persepsi negatif dan mengaburkan substansi pesan.
“Kalau terlalu emosional dan viral di media sosial, fokus publik bisa bergeser dari substansi ke reaksi,” katanya.
Ia menambahkan, lambannya penanganan bencana tidak selalu disebabkan faktor individu semata.
Ada persoalan struktural yang turut memengaruhi, seperti lemahnya koordinasi antarinstansi, keterbatasan sumber daya, hingga panjangnya rantai birokrasi.
Secara keseluruhan, ketegasan Bobby dinilai sebagai langkah strategis untuk mendorong seluruh pemangku kepentingan bergerak lebih cepat, sekaligus memperkuat koordinasi dalam penanganan bencana di Sumatera Utara.
Dalam situasi krisis, publik tidak hanya menuntut empati, tetapi juga ketegasan yang mampu menghadirkan solusi nyata di lapangan. (Wis)
















