Labuhanbatu — telisik.co.id/
Proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Sennah, Kecamatan Pangkatan, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, disorot warga karena diduga sarat korupsi dan pungutan liar (pungli).
Alih-alih memberikan akses air bersih, proyek bernilai ratusan juta rupiah ini justru menuai keluhan akibat air yang keruh, bau, dan tidak layak pakai.
Pamsimas merupakan program pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan melalui penyediaan air minum dan sanitasi layak.
Namun, pelaksanaannya di Desa Sennah justru menciptakan masalah baru.
Warga: Air Tidak Layak Konsumsi, Bau dan Keruh
“Airnya bau, keruh, dan tidak bisa dipakai. Sudah lama begitu, kami menduga ada penyelewengan dana karena tidak pernah ada perawatan,” ujar seorang warga berinisial SM, Minggu (27/7/2025).
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya kepada tim investigasi media. Mereka menunjukkan kondisi infrastruktur pipa yang bocor, berlumut, dan tidak terawat—menjadi cermin kegagalan proyek yang seharusnya membawa manfaat besar bagi masyarakat.
Anggaran Capai Ratusan Juta, Hasil Tak Sesuai
Berdasarkan data yang dihimpun dari dokumen pembangunan desa, proyek ini telah menghabiskan anggaran cukup besar:
- Tahun 2018:
- APBD: Rp 245.000.000
- APBDes: Rp 227.699.900
- Swadaya masyarakat: Rp 70.000.000 (tunai dan tenaga)
- Total: Rp 542.699.900
- Tahun 2019:
- Dana Desa: Rp 191.109.000
Total keseluruhan anggaran: Rp 733.778.900
Namun, fakta di lapangan menunjukkan fasilitas yang tidak berfungsi maksimal. Sejumlah titik distribusi air tidak beroperasi dengan baik, sementara kebocoran pipa menjadi pemandangan umum.
Pungutan Tak Jelas, Warga Merasa Diperas
Kekecewaan warga bertambah ketika mereka diminta membayar antara Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000 per rumah untuk biaya sambungan air.
Tidak ada kejelasan regulasi maupun kuitansi resmi atas pungutan tersebut.
“Katanya untuk menggaji petugas operasional. Tapi jumlahnya beda-beda, nggak ada transparansi. Yang nyuruh Kades langsung,” ungkap MS, warga lainnya.
Kades Akui Proyek Aset Desa, Bungkam Soal Pungli
Saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kepala Desa Sennah, Horas Lumban Gaol, membenarkan bahwa proyek tersebut merupakan aset desa.
Namun, saat ditanya soal kondisi rusak dan dugaan korupsi, ia memilih irit bicara.
“Milik desa itu,” jawabnya singkat.
“Sudah lagi dibolo itu minggu ini,” tambahnya, merujuk bahwa perbaikan sedang dilakukan.
Upaya lanjutan media untuk mengkonfirmasi dugaan pungli dan penggunaan dana yang tidak transparan tidak mendapat respons lebih lanjut dari kepala desa.
Desakan Audit dan Penyelidikan
Warga berharap pihak berwenang, termasuk Inspektorat dan aparat penegak hukum, segera turun tangan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap proyek tersebut.
Mereka khawatir, anggaran besar hanya menjadi ajang bancakan elite desa tanpa manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini sudah bukan hanya soal air keruh, tapi soal keadilan. Uang negara harus dipertanggungjawabkan,” tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.(**l
Rsporter : Arif
Editor : Yong
















