Menu

Mode Gelap
 

Pendidikan

“Sekolah di Ujung Utara: Ketika Anak Nelayan Belajar di Tengah Kayu Keropos dan Harapan yang Tak Patah”

badge-check


					“Sekolah di Ujung Utara: Ketika Anak Nelayan Belajar di Tengah Kayu Keropos dan Harapan yang Tak Patah” Perbesar

Belawan — telisik.co.id/


Dari kejauhan, bangunan sekolah itu tampak sederhana, bahkan nyaris tak mencolok. Namun siapa sangka, di balik lantai kayu yang mulai rapuh dan atap yang menua oleh waktu, semangat belajar anak-anak nelayan tak pernah goyah. Mereka datang setiap pagi, melewati gang sempit dan jalan kayu yang berderit, hanya demi satu hal: menjemput masa depan.

Senin, 28 Juli 2025, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menepikan langkahnya di sekolah yang nyaris dilupakan: SD Negeri 068009, yang terletak di Kampung Nelayan Belawan, wilayah paling utara dari Kota Medan. Ia datang dengan perahu motor, bukan dengan mobil dinas, menyusuri air yang setiap hari menjadi saksi perjuangan warga Belawan mencari nafkah.

Setiba di dermaga kayu yang sudah uzur, Rico Waas turun tanpa banyak basa-basi. Ia langsung menyapa anak-anak sekolah di depan gerbang. Ada senyum malu-malu, ada juga tawa lepas yang menyambutnya—tapi lebih dari itu, ada suara diam yang seakan ingin berkata: ‘Pak, tolong lihat sekolah kami.’

Satu per satu ruangan ditinjau. Lantai kayu yang bolong, dinding yang lapuk, dan atap yang nyaris tak lagi melindungi. Bangunan yang dibangun tahun 1985 itu kini berdiri dalam ketidakpastian. Bukan karena tidak ada murid—justru sebaliknya, setiap kelas penuh. Sekolah ini hidup, tapi nyaris tak diberi kehidupan.

Atap dan lantainya sudah keropos. Ini harus segera dibenahi. Saya sudah minta Kadis Pendidikan turun langsung. SD ini jadi perhatian khusus saya,” tegas Rico Waas, seraya ditemani anggota DPRD Medan dan para pejabat Pemko Medan.

Yang membuat Rico Waas terenyuh bukan sekadar kerusakan bangunan. Tapi kenyataan bahwa di tengah keterbatasan itu, anak-anak tetap belajar dengan gembira. Tidak ada keluhan dari mereka, hanya semangat yang memancar dari mata-mata kecil yang penuh mimpi.

Inilah paradoks yang kerap terjadi di negeri ini: sekolah yang paling jauh dari pusat kekuasaan justru sering menjadi yang paling terlupakan. Padahal, di situlah kita bisa menemukan wajah asli Indonesia—anak-anak yang lahir dari keluarga sederhana, tinggal di kampung pesisir, dan tetap gigih ingin sekolah walau ruang kelas mereka nyaris ambruk.

Kunjungan Rico Waas bukan sekadar protokoler. Ia menyadari bahwa sekolah ini adalah simbol: jika kita tidak bisa menjaga tempat seperti SD 068009, maka kita sedang mengabaikan fondasi masa depan bangsa. Karena pendidikan bukan hanya soal kota dan statistik, tapi tentang kesetaraan akses dan kepedulian yang nyata.

Jika anak-anak di Kampung Nelayan Belawan masih mau belajar di lantai yang retak dan ruang yang gerah, maka seharusnya negara—melalui pemimpin daerah—harus lebih cepat bertindak. Dan langkah Rico Waas ke sana, dengan perahu dan niat baik, semoga bukan sekadar kunjungan—tapi awal dari pembenahan yang sesungguhnya.

Karena di sekolah yang nyaris roboh itu, ada masa depan yang tetap berdiri tegak—menunggu tangan negara merangkul mereka, sebelum semuanya terlambat.(Wis)

Facebook Comments Box

Lainnya

Tinjau MBG di SMAN 1 Gunungsitoli, Bobby Nasution Pastikan Program Presiden Berjalan Optimal

13 Februari 2026 - 09:07 WIB

Tiorita Hadiri Capping Day Akbid Langkat, 27 Mahasiswa Resmi Kenakan Cap

12 Februari 2026 - 18:24 WIB

Bobby Nasution Minta Relaksasi UKT Mahasiswa Korban Bencana saat Pelantikan Rektor USU

28 Januari 2026 - 23:55 WIB

ULB–SawitPRO Teken Kerja Sama Strategis di Bidang Agri-Teknologi

25 Januari 2026 - 21:08 WIB

Bobby Nasution Gelontorkan Rp43 Miliar, Gratiskan SPP SMA-SMK di 10 Kabupaten/Kota Sumut

25 Januari 2026 - 13:30 WIB

Hits di Pendidikan