Labuhan Batu-Telisik.net
Perselisihan antara Halim Hasibuan dan Heri Sunarya bermula dari sebuah status WhatsApp. Heri memposting rencana konser seorang artis yang akan tampil di Siantar. Halim yang melihat status tersebut bertanya: “Itu acara apa, Bang?” Heri menjelaskan bahwa artis tersebut adalah Fauzana, penyanyi Minang yang sedang viral, dan bahwa ia berencana mengadakan konser Fauzana di Rantauprapat.
Ketika Halim menanyakan estimasi anggaran, Heri menyebutkan bahwa biaya konser akan memakan Rp160 juta. Halim menolak karena terlalu tinggi. Heri kemudian menawarkan agar cukup membantu setengahnya, yakni Rp80 juta. Halim menyatakan akan mempertimbangkannya setelah kembali dari Medan.
Dalam komunikasi selanjutnya, Heri tetap mengajak Halim untuk bergabung sebagai sponsor. Bahkan, Heri mengajak Halim ikut ke Bagan Batu guna memastikan kesepakatan dengan manajemen Fauzana. Halim bersedia menanggung biaya perjalanan mereka, dengan catatan semuanya harus transparan dan masuk dalam anggaran resmi.

Pada 18 Januari 2025, di lobi Hotel Suzuya Bagan Batu, Halim menyaksikan langsung pertemuan antara Heri dan manajemen Fauzana. Setelah diskusi, hanya tanggal perform yang belum disepakati. Halim menyarankan agar jika tanggal sudah pasti, perlu diadakan pertemuan lanjutan untuk membahas persiapan secara matang.
Pertemuan lanjutan diadakan pada 20 Januari 2025 di Warung Bakso BMC, dihadiri oleh 9 orang termasuk Halim, perwakilan CV Buana Mitra Cemerlang Event Organizer, serta tim Heri. Dalam rapat tersebut, Heri menjelaskan konser akan digelar 19 April 2025, dan ia bertindak sebagai ketua panitia. Halim menyetujui untuk menjadi sponsor dengan beberapa syarat, di antaranya transparansi anggaran, pelibatan tim Waktu Indonesia Bergerak dalam penjualan tiket, dan jaminan keuntungan 30%.
Awalnya Halim menolak memberikan dana Rp80 juta sekaligus. Ia hanya bersedia menyerahkan Rp10 juta terlebih dahulu, masing-masing Rp5 juta diserahkan pada 23 Januari 2025. Uang tersebut disebut akan digunakan untuk membayar DP artis, mencetak tiket, serta biaya operasional.
Namun, seiring waktu, Heri kembali meminta dana tambahan Rp30 juta. Halim menolak karena belum ada rencana anggaran yang disepakati bersama. Heri kemudian menyusun anggaran sendiri dan memberikannya kepada Wagiman (bendahara). Setelah Halim mempelajari dokumen tersebut, ia menemukan banyak pemborosan dan tidak adanya kejelasan mengenai pengembalian dana sponsor. Ia pun meminta revisi.
Dalam panggilan WhatsApp berdurasi 49 menit pada 15 Februari 2025, Heri kembali mendesak Halim untuk memberikan dana tambahan. Namun, karena Halim menilai perencanaan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, ia menolak. Sejak itu, komunikasi keduanya terputus. Heri mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Halim lagi dalam diskusi kepanitiaan.
Halim pun menyampaikan melalui Wagiman bahwa ia tidak lagi ingin menjadi sponsor, dan meminta agar dana awal Rp10 juta dikembalikan. Ia juga menegaskan bahwa alasan pengunduran dirinya adalah karena kebijakan panitia yang tidak masuk akal. Heri, melalui Wagiman, berjanji akan mengembalikan dana tersebut pada 20 April 2025, sehari setelah konser.
Meski menarik diri sebagai sponsor, Halim tetap meminta anggota Waktu Indonesia Bergerak membantu penjualan tiket. Namun kemudian Wagiman juga tidak lagi terlibat karena persoalan komunikasi dengan Heri. Tiket yang sempat dipegang mereka sebagian besar telah dikembalikan.
Sayangnya, konser yang direncanakan batal dilaksanakan. Halim dan Wagiman berupaya bertemu Heri untuk menagih dana yang dijanjikan. Saat pertemuan di sebuah warkop di Binaraga, komunikasi sempat berlangsung baik, namun kembali memanas saat Halim meminta pengembalian dana. Heri hanya berjanji melalui telepon kepada Wagiman, namun hingga berita ini disusun, uang tersebut belum dikembalikan.(arif/red)
















