Menu

Mode Gelap
 

Berita

Sungai Bilah, Satu-satunya Warisan Leluhur yang Masih Hidup di Labuhan Batu

badge-check


					Sungai Bilah, Satu-satunya Warisan Leluhur yang Masih Hidup di Labuhan Batu Perbesar

 

Labuhan Batu – telisik.co.id/

Kabupaten Labuhan Batu, yang dahulu dikenal sebagai Negeri Bertuah Malaka, kini seolah kehilangan jati dirinya.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan ketidakhadiran perhatian terhadap adat serta sejarah, satu-satunya warisan leluhur yang masih tersisa dan tak tergantikan hanyalah Sungai Bilah.

Labuhan Batu, sejak diresmikan pada tahun 1945, seperti berjalan tanpa kompas budaya.

Minimnya pelestarian adat istiadat dan nihilnya penggalian sejarah membuat kabupaten ini kian jauh dari akar budayanya sendiri.

Ungkapan Melayu kuno, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, kini hanya tinggal semboyan tanpa pijakan nilai.

Namun di tengah semua yang memudar, Sungai Bilah tetap mengalir — menjadi saksi bisu masa kejayaan yang nyaris dilupakan.

Sungai Bilah: Nadi yang Tak Pernah Putus

Sungai Bilah adalah sungai yang berhulu di perbukitan Barisan dan bermuara di Sungai Barumun hingga ke Selat Malaka.

Panjangnya membelah enam kecamatan: Bilah Barat, Rantau Utara, Rantau Selatan, Pangkatan, Bilah Hilir, dan Panai Hulu.

Di atasnya berdiri empat jembatan penghubung kehidupan: satu di Rantauprapat, dua di Jalan Lintas Timur Sumatera (Bypass), dan satu lagi di Desa Sungai Tampang

Namun Sungai Bilah bukan sekadar jalur air. Ia adalah jalur peradaban. Di masa lalu, sungai ini menjadi lintasan perdagangan dan budaya.

Dari alirannya, masuk pengaruh kerajaan-kerajaan besar, bahkan membentuk Kesultanan tersendiri — Kesultanan Bilah.

Dari Sungai ke Singgasana: Lahirnya Kesultanan Bilah

Nama “Bilah” berasal dari pohon nibung dan rotan yang banyak tumbuh di tepiannya, dahulu dikenal dengan sebutan “bilah nibung” atau “bilah rotan”. Tapi lebih dari itu, nama Bilah menyatu dengan jejak sejarah yang besar.

Tahun 1630, Sultan Tahir Indra Alam, putra Sultan Mahmud Perkasa Alam dari Kesultanan Kualuh, memilih wilayah tepian Sungai Bilah sebagai pusat pemerintahan.

Dari situlah lahir Kesultanan Bilah, yang berkembang dari darah biru Kesultanan Asahan,

Pinang Awan, hingga Pagaruyung. Kesultanan ini tak hanya mencerminkan kekuasaan, tapi juga pengetahuan, hukum adat, dan pusat kebudayaan.

Kerajaan Panai dan Jejak Tua Sungai

Sebelum nama-nama kesultanan itu mekar, Labuhan Batu diyakini merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Panai, kerajaan bercorak Buddha yang berdiri sejak abad ke-11.

Jejak kerajaan ini terekam dalam Prasasti Tanjore yang dikeluarkan oleh Rajendra Chola I dari India Selatan.

Di dalam daftar penaklukan Chola terhadap Sriwijaya, nama Panai tercatat, membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat peradaban penting.

Era Kemerdekaan dan Hancurnya Singgasana

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, satu per satu kekuasaan kesultanan di Nusantara runtuh, termasuk Kesultanan Bilah, akibat gelombang Revolusi Sosial yang mengguncang Sumatera Timur.

Rakyat yang kecewa, diprovokasi, atau mengalami ketimpangan sosial bangkit menentang bangsawan dan raja.

Peristiwa itu menghancurkan istana, membubarkan struktur adat, dan meninggalkan sejarah dalam puing.

Sejak saat itulah Sungai Bilah hanya menjadi sungai — tak lagi kerajaan, tak lagi pusat adat, namun tetap menjadi denyut diam Labuhan Batu.

Sungai Bilah Hari Ini: Sumber Ekonomi atau Ancaman Lingkungan?

Meski sejarahnya agung, peran Sungai Bilah kini bergeser. Kedalaman antara 2 hingga 8 meter menyimpan kekayaan alam berupa pasir dan kerikil berkualitas tinggi, yang kini jadi komoditas primadona untuk konstruksi di berbagai kabupaten.

Namun di balik geliat ekonomi itu, muncul kekhawatiran. Penambangan Galian C yang tak diawasi secara ketat berpotensi merusak lingkungan, mempercepat pendangkalan sungai, dan memicu bencana ekologi.

Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu memiliki tugas penting: mengelola, mengawasi, dan memastikan bahwa kekayaan Sungai Bilah tak hanya menguntungkan segelintir orang, tapi menjadi sumber pendapatan daerah yang adil dan berkelanjutan.

Dinas PUPR, Distamben, DLH hingga Kementerian ESDM dituntut bekerja dengan transparansi dan keberpihakan pada masa depan.

Sungai yang Masih Berbisik ;

Sungai Bilah mungkin sudah tidak lagi membawa perahu para raja. Tapi alirannya masih membawa bisikan sejarah.

Bahwa Labuhan Batu pernah menjadi pusat budaya. Bahwa di tengah kehilangan identitas, masih ada satu pusaka yang tersisa.

Sungai Bilah bukan sekadar warisan — ia adalah pengingat.

Dan selagi airnya masih mengalir, Labuhan Batu masih punya kesempatan untuk mengenali dirinya kembali.

Sigondrong, dalam diam..

 

 

 

Facebook Comments Box

Lainnya

Hadiri RKPD Sumut 2027, Wabup Langkat Tegaskan Kesiapan Pemulihan Pascabencana

30 Januari 2026 - 12:03 WIB

Pemprov Sumut Pastikan Proyek Penguatan Tebing Sungai Batang Serangan Dilaksanakan Tahun 2026

29 Januari 2026 - 11:48 WIB

Kemenimipas Salurkan 10 Ribu Paket Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Langkat

28 Januari 2026 - 21:57 WIB

Pemko Binjai Segel Bangunan Ilegal di Bantaran Sungai

21 Januari 2026 - 21:01 WIB

Kecelakaan Kerja di PKS CCMO, Disnaker Langkat Angkat Tangan: Kewenangan Dipreteli?

20 Januari 2026 - 15:16 WIB

Hits di Berita