MEDAN – telisik.co.id
Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, memberikan apresiasi terhadap film Samudera, sebuah karya perfilman yang digarap sepenuhnya oleh talenta lokal Kota Medan.
Menurutnya, film tersebut menjadi bukti bahwa industri kreatif daerah, khususnya perfilman, memiliki potensi besar untuk berkembang sekaligus menjadi medium pendidikan sosial bagi masyarakat.
Apresiasi itu disampaikan Zakiyuddin saat menerima audiensi tim film Samudera yang dipimpin produser Dewi Budiati Teruna Said di Ruang Khusus Wakil Wali Kota Medan, Rabu (20/5/2026).
Dalam audiensi tersebut, tim film turut mengundang Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, bersama Wakil Wali Kota untuk menghadiri gala premiere film Samudera yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni 2026 di Sun Plaza.
Zakiyuddin yang didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Arrahmaan Pane, serta Sekretaris Dinas Pariwisata, T. Roby Chairi,
menilai film bertema lokal memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat karena lahir dari realitas sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keterlibatan sineas, kru, hingga pemain asal Medan menjadi kekuatan penting dalam membangun identitas budaya sekaligus kebanggaan daerah.
Lebih jauh, Zakiyuddin berharap film Samudera tidak berhenti sebagai hiburan semata, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda.
“Film harus bisa membuka pintu hati generasi muda untuk mau belajar dan berkembang.
Terutama bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi rentan, agar mereka memiliki semangat meningkatkan kualitas diri,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa film idealnya dapat menanamkan nilai pendidikan, akhlak, dan kepedulian sosial,
sekaligus menjadi refleksi terhadap persoalan yang dihadapi anak muda saat ini, seperti penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, hingga judi online.
Selain itu, Zakiyuddin juga menyoroti pentingnya film sebagai media edukasi bagi masyarakat pesisir, termasuk kalangan nelayan, agar memiliki wawasan dan motivasi untuk meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan maupun keterampilan.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih besar dalam mendukung promosi karya kreatif lokal, termasuk melalui penguatan sektor komunikasi dan informatika.
“Kalau seni ini hidup, maka pelakunya juga bisa hidup. Film harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Dewi Budiati Teruna Said menjelaskan bahwa film Samudera mengangkat kisah perjuangan seorang anak nelayan yang dikenal berbudi luhur, cerdas, dan menjadi teladan di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun perjalanan hidup tokoh utama itu berakhir tragis setelah dibunuh jaringan pengedar narkoba karena dianggap mengganggu aktivitas mereka.
Kisah kemudian berlanjut melalui sosok sang adik, Santana, yang bertekad melanjutkan perjuangan dan nilai-nilai kebaikan abangnya demi menjaga kampung halaman.
Konflik cerita semakin berkembang ketika Santana harus menghadapi pergulatan batin setelah menjalin kedekatan dengan Dr. Amelia, sosok yang pernah menjadi kekasih almarhum sang abang.(Wis)
















