Foto : ReCity Medan mengusung tagline Make Sidewalks Make Sense in Medan sebagai representasi tujuan kampanye untuk mendorong terciptanya trotoar yang berfungsi sebagaimana mestinya dan berpihak pada kebutuhan pejalan kaki.(Ist)
Medan- telisik.co.id
Mahasiswa Ilmu Komunikasi menggelar kampanye tentang hak pejalan kaki bertajuk “ReCity Medan” di Sekata Kopi, Jalan Sei Batu Gingging Ps. X No. 6, Medan, Minggu, 11 Oktober 2026.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya trotoar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh pengguna jalan. Melalui kampanye ini, ReCity Medan mengajak masyarakat untuk melihat trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan fasilitas publik yang menjadi bagian penting dari mobilitas perkotaan.
Salah satu kegiatan utama yang digelar adalah walk audit, yaitu aktivitas berjalan kaki secara langsung untuk mengamati dan merasakan kondisi trotoar di Kota Medan.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenali berbagai persoalan yang dapat dihadapi pejalan kaki, mulai dari kondisi fisik trotoar hingga hambatan yang mengganggu kenyamanan dan keamanan saat berjalan.
Pengalaman tersebut memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami persoalan trotoar dari sudut pandang pengguna, sekaligus melihat bagaimana kualitas fasilitas pejalan kaki dapat memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Anthoni Mardianta, S.T., M.T., IAP, CIIQA, selaku Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sumatera Utara (USU), serta Dr. Mhd. Hamdani, S.Sos., M.Si., CHE.
Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami persoalan trotoar dari perspektif perencanaan kota, sosial dan pariwisata, termasuk pentingnya menghadirkan fasilitas pejalan kaki yang dapat digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Selama kegiatan walk audit berlansung, ditemukan sejumlah kondisi trotoar yang belum memadai dan berpotensi mengganggu kenyamanan serta keselamatan pejalan kaki. Anthoni menyampaikan bahwa kondisi trotoar di beberapa titik masih memerlukan perhatian.
“Seperti yang kita lihat selama berjalan tadi, masih banyak trotoar yang berlubang, guiding block yang terputus, bahkan ubin yang sudah rusak dan tidak layak digunakan.
Kondisi seperti ini tentu tidak ramah bagi pejalan kaki, terutama bagi penyandang disabilitas yang mengandalkan guiding block untuk membantu mobilitas mereka,” ujar Anthoni.
Selain itu Hamdani juga menyampaikan pendapat nya mengenai pentingnya keberadaan trotoar yang layak dari sudut pandang pariwisata.
“Trotoar merupakan bagian dari pengalaman wisatawan ketika mengunjungi suatu kota. Kalau trotoarnya aman, nyaman, dan ramah bagi semua kalangan, wisatawan akan lebih tertarik untuk berjalan kaki dan mengenal kota tersebut lebih dekat.
Karena itu, pembangunan fasilitas pedestrian yang inklusif bukan hanya soal memenuhi hak pejalan kaki, tetapi juga bagian dari upaya membangun pariwisata kota yang lebih baik,” ujarnya
ReCity Medan mengusung tagline Make Sidewalks Make Sense in Medan sebagai representasi tujuan kampanye untuk mendorong terciptanya trotoar yang berfungsi sebagaimana mestinya dan berpihak pada kebutuhan pejalan kaki.
Melalui kegiatan ini, ReCity berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap kualitas trotoar dan ikut mendorong terwujudnya ruang kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki.(Rel)


















