Foto : Tiorita Br Surbakti yang kini menjabat Plt Bupati Langkat di Negeri Langkat Bertuah. (doc)
Telisik.co.id | EDITORIAL : Yong Ganas
Tidak semua orang yang tersenyum sedang bahagia. Tidak semua orang yang diam berarti menyerah. Dan tidak semua orang yang dihina akan selamanya berada di bawah. Sebab, kehidupan kerap menyimpan jalan yang tak pernah terbayangkan oleh manusia.
Ada yang unik dan menarik di balik sosok perempuan yang kini berada di pucuk pemerintahan Kabupaten Langkat. Namanya Tiorita Br. Surbakti. Publik mengenalnya sebagai Plt. Bupati Langkat. Namun, di balik jabatan dan tanggung jawab yang kini dipikulnya, ada perjalanan hidup yang tak cukup diceritakan hanya dalam satu tarikan napas.
Dari kacamata penulis, Tiorita adalah sosok perempuan yang tegar. Bahkan tidak berlebihan rasanya menyematkan gelar ” Wanita Tangguh” dari Bumi Bertuah. Setidaknya, begitulah kesan yang muncul ketika melihat bagaimana ia menjalani berbagai ujian kehidupan. Ia tidak selalu tampil dengan pidato panjang tentang penderitaan. Ia juga tidak harus menceritakan setiap luka untuk membuktikan bahwa dirinya pernah terluka.
Ada masa ketika kehidupan memberinya ruang untuk tersenyum. Ada pula masa ketika cobaan datang bertubi-tubi, seolah tidak memberi kesempatan untuk sekadar menarik napas.
Namun, hidup memang bukan panggung yang seluruh adegannya bisa kita pilih sendiri. Ada bagian yang bisa kita perjuangkan, ada pula kenyataan yang harus kita hadapi dengan kesabaran, doa, dan kelapangan hati.
Bagi Tiorita, keyakinan kepada Sang Khalik tampaknya menjadi salah satu pegangan dalam melewati perjalanan itu.
Ketika Badai Datang di Puncak Kehidupan
Siapa yang menyangka, ketika keluarga berada dalam lingkaran kekuasaan, ujian justru datang dari arah yang tidak mudah dibayangkan?
Sang suami,Terbit Rencana PA, yang pernah menjabat sebagai Bupati Langkat, terseret persoalan hukum. Perkara yang menyeret namanya menjadi perhatian luas masyarakat, dengan berbagai persoalan yang mencuat ke ruang publik.
Bagi sebuah keluarga, persoalan hukum yang menimpa kepala keluarga tentu bukan perkara ringan. Apalagi ketika pemberitaan, pembicaraan publik, dan penilaian masyarakat terus bergulir.
Belum selesai menghadapi badai tersebut, Tiorita juga harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika putra semata wayangnya terseret perkara pidana.
Bayangkan, seorang istri harus menghadapi proses hukum yang menimpa suaminya, sementara sebagai seorang ibu ia juga harus menerima kenyataan bahwa anak yang disayanginya berhadapan dengan persoalan hukum.
Tidak mudah membayangkan beban batin yang harus dipikul dalam keadaan seperti itu. Namun, kita juga tidak perlu mengarang cerita tentang air mata yang tidak pernah kita saksikan. Cukuplah memahami bahwa menghadapi persoalan keluarga sekaligus menjadi sorotan publik bukanlah perkara sederhana.
Di tengah situasi tersebut, berbagai komentar, cibiran, dan penilaian terhadap keluarganya terus bermunculan.
Di sinilah ketegaran seseorang diuji. Bukan ketika semua orang memberikan tepuk tangan, melainkan ketika keadaan tidak berpihak dan kata-kata orang lain terasa lebih tajam daripada persoalan yang sedang dihadapi.
Dari perjalanan yang terlihat di ruang publik, Tiorita tetap melangkah. Ia tidak harus membalas setiap perkataan dengan perkataan. Ia tidak perlu menjadikan setiap kritik sebagai pertengkaran.
Diam bukan selalu tanda kelemahan. Kadang-kadang, diam adalah pilihan untuk tidak memperpanjang luka.
Tetapi, tentu saja, diam juga bukan berarti semua kritik harus diabaikan. Sebab, dalam kehidupan publik, kritik yang benar tetap harus didengar, sementara fitnah dan penghinaan tidak perlu dibalas dengan kebencian.
Takdir Membuka Pintu yang Tak Pernah Terbayangkan
Ada satu pelajaran menarik dari perjalanan Tiorita: kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti perkiraan manusia.
Ketika persoalan keluarga menjadi perhatian publik, jalan politik justru terbuka. Tiorita maju mendampingi H. Syah Afandin dalam Pilkada Langkat 2024. Perjalanan pencalonannya tidak lepas dari keraguan dan perbincangan masyarakat.
Namun, hasil pemilihan membawa keduanya ke kursi kepemimpinan Kabupaten Langkat.
Tiorita kemudian menjalankan tugas sebagai Wakil Bupati Langkat. Sebuah posisi yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh sebagian orang ketika melihat perjalanan hidupnya sebelumnya.
Bagi mereka yang percaya kepada takdir, kejadian seperti ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang menunggunya di masa depan.
Hari ini seseorang bisa berada dalam kesulitan. Esok, ia mungkin memperoleh kesempatan untuk bangkit. Hari ini seseorang diremehkan. Esok, ia bisa saja dipercaya memikul tanggung jawab besar.
Karena itu, jangan terlalu cepat merendahkan seseorang hanya karena ia sedang berada di bawah. Kehidupan tidak pernah meminta izin kepada manusia ketika hendak mengubah jalan cerita.
Namun, ada satu hal yang juga tidak boleh dilupakan: jabatan bukan hadiah yang membebaskan seseorang dari kewajiban. Ketika kesempatan datang, tanggung jawab pun ikut menyertainya.
Dan di situlah perjalanan Tiorita memasuki babak yang berbeda.
Dari Ujian Pribadi Menuju Tanggung Jawab Publik
Kini, Tiorita menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Bupati Langkat setelah Syah Afandin terseret perkara hukum yang ditangani KPK.
Perubahan posisi tersebut membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada persoalan pribadi. Ada jutaan kepentingan masyarakat yang harus diperhatikan, ada pelayanan publik yang harus berjalan, dan ada pekerjaan rumah pembangunan yang tidak bisa menunggu.
Langkat bukan daerah yang bebas persoalan.
Masyarakat masih membutuhkan infrastruktur yang layak, pelayanan kesehatan yang baik, pendidikan yang terjangkau, lapangan pekerjaan, serta pemerintahan yang terbuka dan bertanggung jawab.
Dalam situasi seperti itu, ketegaran pribadi memang penting. Akan tetapi, rakyat tidak cukup hanya mengetahui bahwa pemimpinnya tegar menghadapi cobaan. Rakyat juga ingin melihat apakah ketegaran tersebut mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang membawa perubahan.
Dari sejumlah aktivitas pemerintahan yang terlihat, Tiorita berupaya menjalankan tugasnya. Ia menempati rumah dinas Wakil Bupati di Stabat, sehingga lebih dekat dengan pusat pemerintahan dan memudahkan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah maupun masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan.
Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, kedekatan dengan pusat pemerintahan semestinya menjadi pintu untuk mempercepat komunikasi, memperpendek jarak pelayanan, dan memastikan persoalan warga tidak berhenti sebagai laporan di atas meja.
Sebab, ukuran kepemimpinan bukan semata-mata seberapa sering seorang pejabat hadir dalam kegiatan. Ukurannya adalah seberapa jauh kehadiran tersebut menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.
Jalan Rusak, Kritik yang Tak Boleh Dibungkam
Salah satu persoalan yang kerap menjadi sorotan di Langkat adalah kondisi infrastruktur jalan.
Jalan rusak bukan sekadar lubang di atas permukaan aspal. Bagi masyarakat, jalan yang buruk bisa berarti perjalanan lebih lama, biaya kendaraan meningkat, distribusi hasil pertanian terhambat, bahkan akses menuju sekolah dan fasilitas kesehatan menjadi lebih sulit.
Karena itu, ketika masyarakat mengeluhkan jalan rusak, keluhan tersebut tidak boleh buru-buru dianggap sebagai serangan kepada pemerintah.
Bisa jadi, di balik keluhan itu terdapat kebutuhan yang sudah lama menunggu penyelesaian.
Tiorita pun menghadapi persoalan tersebut di tengah keterbatasan anggaran, proses perencanaan, dan berbagai kebutuhan pembangunan yang harus diprioritaskan.
Namun, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bekerja. Sebaliknya, keterbatasan menuntut pemerintah lebih cermat menentukan prioritas, transparan menjelaskan rencana, dan konsisten mengawal pelaksanaan pembangunan.
Masyarakat tentu tidak menuntut semua jalan rusak diperbaiki dalam satu malam. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa persoalan mereka didengar, rencana penanganannya jelas, dan janji yang disampaikan tidak berhenti sebagai kalimat yang terdengar manis.
Di sisi lain, kritik juga harus disampaikan secara bertanggung jawab. Mengoreksi kebijakan berbeda dengan menghina pribadi. Mempertanyakan anggaran berbeda dengan menyebarkan tuduhan tanpa bukti.
Pemerintah perlu membuka ruang kritik, sedangkan masyarakat perlu menjaga agar kritik tetap berpijak pada fakta.
Dalam hubungan seperti itulah kepercayaan publik dapat tumbuh.
Jangan Terlena oleh Jabatan, Jangan Pula Takut oleh Cibiran
Ada ungkapan yang patut direnungkan: jangan terlalu membenci seseorang ketika ia sedang berada di bawah, dan jangan terlalu memujanya ketika ia berada di atas.
Sebab, jabatan tidak membuat seseorang menjadi sempurna. Demikian pula, kesulitan hidup tidak otomatis membuat seseorang selalu benar.
Tiorita boleh saja dipandang sebagai sosok perempuan yang tegar karena perjalanan hidupnya. Namun, sebagai pejabat publik, ia tetap harus membuka diri terhadap evaluasi dan kritik.
Begitu pula masyarakat. Tidak adil apabila seseorang terus-menerus dihukum oleh cibiran atas persoalan keluarganya, sementara tugas dan kebijakannya sebagai pejabat tidak dinilai secara objektif.
Sebaliknya, tidak tepat pula apabila kisah perjuangan hidup dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap persoalan pemerintahan yang belum selesai.
Keduanya harus ditempatkan pada porsi yang benar.
Kehidupan pribadi layak dihormati. Kinerja publik tetap wajib diawasi.
Di sinilah kedewasaan masyarakat dan pemimpin diuji. Pemimpin tidak boleh alergi terhadap kritik, sedangkan masyarakat tidak seharusnya kehilangan akal sehat hanya karena suka atau tidak suka kepada seseorang.
Pada Akhirnya, Rakyat yang Akan Menilai
Tiorita mungkin tidak pernah membayangkan seluruh jalan hidup yang akhirnya membawanya ke posisi sekarang. Namun, hari ini ia telah memegang amanah untuk menjalankan roda pemerintahan Kabupaten Langkat.
Amanah itu bukan perkara kecil.
Di hadapannya ada persoalan jalan, pelayanan kesehatan, pendidikan, ekonomi masyarakat, dan berbagai kebutuhan warga yang menunggu jawaban. Semua itu tidak dapat diselesaikan hanya dengan ketegaran, doa, atau kata-kata yang menyentuh.
Diperlukan kerja nyata, keberanian mengambil keputusan, ketepatan menentukan prioritas, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap kebijakan.
Doa memberi kekuatan. Ketegaran membantu seseorang bertahan. Tetapi dalam pemerintahan, semua itu harus berjalan beriringan dengan kemampuan bekerja dan kesungguhan melayani.
Jika Tiorita mampu menjadikan pengalaman hidupnya sebagai pelajaran tentang kesabaran, empati, dan keteguhan, maka nilai-nilai itu dapat menjadi bekal dalam memimpin. Namun, pembuktiannya tetap berada pada apa yang ia kerjakan untuk masyarakat Langkat.
Sebab, pada akhirnya, rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu bertahan menghadapi badai. Rakyat juga membutuhkan pemimpin yang mampu membawa mereka keluar dari kesulitan.
Tiorita telah melewati banyak persimpangan kehidupan. Kini, tantangan terbesarnya bukan lagi membuktikan bahwa dirinya mampu bertahan dari cobaan, melainkan membuktikan bahwa amanah yang berada di pundaknya benar-benar membawa manfaat bagi Tanah Bertuah.(**)
Dan sejarah kelak tidak hanya mencatat bagaimana seseorang sampai ke puncak kekuasaan, tetapi juga apa yang dilakukannya ketika berada di sana.
YONG GANAS
Metrolangkat.com — Melihat Sisi Berbeda



















