Foto : Wagubsu Surya menerima Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang, Malaysia, Wanton Saragih Sidauruk.(ist)
MEDAN – telisik.co.id
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) memperkuat konektivitas logistik antara Pelabuhan Kuala Tanjung dan Penang Port, Malaysia,
sebagai langkah strategis untuk memangkas biaya logistik, mempercepat arus ekspor-impor, serta meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Komitmen tersebut mengemuka saat Wakil Gubernur Sumut Surya menerima kunjungan Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Penang, Malaysia, Wanton Saragih Sidauruk,
di ruang kerja Wakil Gubernur Sumut, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan, Senin (6/7/2026).
Selain membahas penguatan konektivitas Pelabuhan Kuala Tanjung dengan Penang Port,
pertemuan tersebut juga membicarakan perkembangan pekerja migran Indonesia (PMI) di Penang serta perlindungan nelayan Sumut yang beraktivitas di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
“Kami akan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Pemprov Sumut tentu akan menindaklanjuti berbagai hal yang diharapkan.
Selama ini belum banyak masyarakat yang mengetahui bahwa Pelabuhan Kuala Tanjung sudah dapat dimanfaatkan, khususnya untuk pengiriman berbagai komoditas,” ujar Surya.
Menurut Surya, Pelabuhan Kuala Tanjung memiliki posisi strategis sebagai gerbang logistik internasional. Selain terminal khusus milik PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM),
pelabuhan ini juga memiliki Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) yang dikelola PT Prima Multi Terminal, konsorsium Pelindo, Waskita Karya, dan Pembangunan Perumahan.
KTMT melayani bongkar muat peti kemas maupun nonpeti kemas, seperti curah cair, curah kering, dan general cargo.
Berlokasi di Kabupaten Batubara dan menghadap langsung ke Selat Malaka,
Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan menjadi pelabuhan hub internasional sekaligus pusat transshipment terbesar di kawasan barat Indonesia.
Sementara itu, Konsul Jenderal RI Penang Wanton Saragih Sidauruk mengatakan kerja sama antara Pelabuhan Kuala Tanjung dan Penang Port telah dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 2 September 2025.
Menurutnya, implementasi kerja sama tersebut perlu mendapat dukungan penuh dari Pemprov Sumut dan kalangan dunia usaha, termasuk Kamar Dagang dan Industri (Kadin).
MoU antara PT Prima Multi Terminal (PMT) dan Penang Port berfokus pada pengembangan konektivitas logistik,
pelayaran peti kemas internasional, serta kegiatan alih muat (transshipment) di Selat Malaka.
Kerja sama tersebut membuka jalur pelayaran peti kemas reguler secara langsung antara Kuala Tanjung dan Penang sehingga diharapkan mampu memperlancar perdagangan,
menarik investasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara.
“Pada 23 Juni kami bertemu CEO Penang Port Malaysia untuk mendorong peningkatan konektivitas dengan Kuala Tanjung.
Jarak pelayaran hanya sekitar enam jam sehingga lebih efisien.
Penang merupakan pusat industri semikonduktor yang menopang industri elektronik, komunikasi, otomotif, dan sektor strategis lainnya,” kata Wanton.
Dalam kesempatan itu, Wanton juga melaporkan perkembangan pekerja migran Indonesia di Penang.
Sejak 2022 tercatat lebih dari 21 ribu PMI telah menandatangani kontrak kerja di wilayah tersebut.
Sementara sepanjang Januari hingga Juni 2026 terdapat 5.255 kontrak kerja baru.
Di bidang perlindungan nelayan, Wanton mengungkapkan jumlah nelayan asal Sumut yang tersangkut kasus hukum di Malaysia akibat melintasi batas wilayah perairan terus menurun.
Pada 2023 tercatat 123 kasus, turun menjadi 24 kasus pada 2024 dan 16 kasus sepanjang 2025.
Bahkan selama Januari hingga Juni 2026 belum ditemukan nelayan asal Sumut yang berhadapan dengan proses hukum karena pelanggaran batas wilayah perairan Indonesia-Malaysia.
Penguatan konektivitas Kuala Tanjung–Penang diharapkan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara melalui peningkatan efisiensi logistik,
perluasan akses pasar internasional, serta penguatan posisi daerah sebagai pusat perdagangan dan industri di kawasan Selat Malaka.(wis)
















